Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Wednesday, July 1, 2009

Sebuah pesan indah dari George Carlin:


Bukankah luar biasa bahwa GEORGE CARLIN komedian di tahun 70an dan 80an – dapat menulis sesuatu yang sangat menyentuh dan baik.
1. Paradoks dalam zaman di masa hidup kita adalah bahwa kita memiliki gedung-gedung yang lebih tinggi tetapi kesabaran yang pendek, jalan bebas hambatan yang lebih lebar tetapi sudut pandang yang lebih sempit.

2. Kita mengeluarkan uang lebih banyak, tetapi memiliki lebih sedikit; kita membeli lebih banyak, tetapi menikmati lebih sedikit.
3. Kita memiliki rumah yang lebih besar dan keluarga yang lebih kecil, lebih nyaman, tetapi waktu yang lebih sedikit.
4. Kita memiliki lebih banyak gelar, tetapi logika yang lebih sedikit; lebih banyak pengetahuan, tetapi penilaian yang lebih sedikit; lebih banyak ahli, tetapi lebih banyak masalah; lebih banyak obat-obatan, tetapi kesehatan yang lebih sedikit.
5. Kita minum dan merokok terlalu banyak, meluangkan waktu dengan terlalu ceroboh, tertawa terlalu sedikit, menyetir terlalu cepat, marah terlalu besar, tidur terlalu larut, bangun terlalu lelah, membaca terlalu sedikit, menonton TV terlalu banyak, dan berdoa terlalu jarang.
6. Kita telah melipatgandakan barang milik kita, tetapi mengurangi nilai kita.
7. Kita terlalu banyak berbicara, terlalu jarang mencintai, dan terlalu sering membenci. Kita telah belajar bagaimana mencari uang, tetapi bukan kehidupan.
9. Kita telah mencapai bulan, tetapi memiliki masalah dalam menyeberang jalan dan
menemui tetangga baru.
10. Kita telah mengalahkan luar angkasa, tetapi bukan dalam diri kita.
11. Kita telah melakukan hal-hal besar, tetapi bukan hal-hal yang lebih baik.
12. Kita telah membersihkan udara, tetapi mengotori sang jiwa.
13. Kita telah mengalahkan atom, tetapi bukan rasa diskriminasi.
14. Kita menulis lebih banyak, tetapi mempelajari lebih sedikit. Kita berencana lebih banyak, tetapi mencapai lebih sedikit.
15. Kita telah belajar untuk terburu-buru, tetapi bukan menunggu. Kita membuat lebih banyak
komputer untuk menampung lebih banyak informasi, menghasilkan fotocopy yang lebih
banyak, tetapi kita berkomunikasi semakin lebih sedikit.
16. Ini adalah zaman dimana makanan siap saji dan pencernaan yang lambat, orang besar dengan karakter yang kecil, keuntungan yang tinggi dan hubungan yang renggang.
17. Ini adalah zaman dimana ada dua penghasilan tetapi lebih banyak perceraian, rumah yang
lebih mewah tetapi keluarga yang berantakan.
18. Ini adalah zaman dimana perjalanan dibuat singkat, popok sekali pakai buang, moralitas
yang mudah dibuang, hubungan satu malam, berat badan berlebihan, dan pil-pil yang
melakukan segalanya dari menceriakan, menenangkan, sampai membunuh.
19. Ini adalah zaman dimana banyak barang di etalase showroom dan tak ada stok dalam ruang
persediaan. Zaman dimana teknologi dapat menyampaikan surat ini kepada Anda, dan
zaman dimana Anda dapat memilih apakah Anda akan berbagi renungan ini, atau hanya
tekan “hapus”…
20. Ingatlah, luangkan lebih banyak waktu dengan orang yang Anda kasihi, karena mereka tidak akan ada selamanya.
21. Ingatlah, ucapkan kata yang baik kepada orang yang memandang Anda dengan ketakutan,
karena si kecil tersebut akan segera tumbuh besar dan meninggalkan Anda.
22. Ingatlah, beri pelukan hangat kepada orang di sisi Anda, karena itulah satu-satunya harta yang dapat Anda berikan dengan hati dan tidak membutuhkan biaya.
23. Ingatlah, katakan “saya menyayangimu” kepada pasangan Anda dan orang yang Anda
kasihi, tetapi dengan penuh makna. Ciuman dan pelukan akan memperbaiki luka ketika
dilakukan dari lubuk hati yang paling dalam.
24. Ingatlah, bergandeng tangan dan nikmati saat itu karena suatu hari orang tersebut tidak akan ada lagi.
25. Berikan waktu untuk mencintai, berikan waktu untuk berbicara! Dan berikan waktu untuk
berbagi pikiran-pikiran yang berharga di benak Anda.

DAN INGATLAH SELALU:
Hidup tidak diukur oleh jumlah nafas kita,
tetapi oleh saat-saat yang menghabiskan nafas
kita.




Read More......

Thursday, June 25, 2009

Yang Mana Anda: si Stuck atau si Unstuck?


Hidup di rantau penuh dengan tantangan. Kebanyakan mitos yang terdengar adalah kemampuan bahasa yang sangatmenentukan keberhasilan seseorang. Dengan perkataan lain,apabila kemampuan bahasa seseorang di perantau kurang memadai, makakemungkinan besar seseorang tidak akan berhasil. Benarkah demikian?
Jawabannya: tidak benar.

Walaupun penting, kemampuan berbahasa dalam bahasasetempat (seperti Bahasa Inggris di Amerika Serikat, Britania Raya danAustralia) tentu akan menunjang keberhasilan dalam membukakanpintu peluang, namun kemampuan mengartikulasikan pikiran dalambentuk komunikasi yang dapat diterima dalam kultur setempatlah yangsebenarnya jauh lebih penting. Juga sikap kerja (attitude) yang etislah yang sangat menentukan keberhasilan seseorang di tanah rantau.
Selama hampir sepuluh tahun di perantauan, tepatnyadi Amerika Serikat, saya telah merasakan sendiri dan melihatdengan mata kepala dan mata hati sendiri bahwa bentuk komunikasi yangpaling mengena bukanlah dengan menggunakan grammar dan choices ofwords yang sempurna, melainkan dengan kemampuan mengekspresikanpikiran dan perasaan dengan cara yang seefisien mungkin dalambentuk komunikasi verbal dan non-verbal. Ini bisa dilihat daripendatang-pendatang baru yang kemampuan berbahasanya --walaupunkedengaran cukup lancar di telinga perantauan saya-- masih kurangsempurna di telinga penduduk setempat.
Ada beberapa sesama teman seperantauan yang sangatcepat melesat karirnya. Sebaliknya ada pula yang totally stuck disatu titik saja selama bertahun-tahun, bahkan masih sering nebengpula dengan teman-temannya yang unstuck. Lantas, sebenarnya apa yangmembedakan mereka? Bukankah mereka sama-sama dari Indonesia dan(kebanyakan) mempunyai latar belakang kehidupan masa lalu yangmirip pula?
Untuk mempermudah deskripsi saya di bawah, mari kita sebut saja mereka yang cepat melesat karirnya sebagai si "Unstuck" dan mereka yang jalan di tempat si "Stuck."
Si "Unstuck," biasanya mempunyai kemampuan berkomunikasi yang universal (selalu menjaga etika, banyak mendengarkan dan percaya diri tanpa perlu menjatuhkan orang lain) attitude yangberbeda dibandingkan dengan si "Stuck." Bagi si Unstuck, tantangan adalah sumber gairah dan energy yang sangat berharga. Dalam kata lain, dengan kesulitan --termasuk kesulitan dalam berkomunikasi-- ia menemukan makna hidup. Dengan demikian, ia membukapintu-pintu keberhasilan baginya di masa depan (di tingkat"etheral," dalam bahasa New Age-nya).
Bagi si Stuck, tantangan adalah sesuatu yang ingin dihindarkan setiap saat. Saya ingat betapa ada seorang teman yang selalu mengeluh baik ketika tidak mendapatkan pekerjaan, sedang mencari pekerjaan dan bahkan ketika sudah diterima kerja.Keluhannya walaupun hanya untuk hal-hal kecil saja, namun bagi si Unstuck, ini adalah salah satu bentuk "invitation" bagi kegagalan.
Coba saja bayangkan. Si Stuck ini sering mengeluh betapa "kejam"nya bosnya di tempat kerja, maka ketika suatu hari kehadirannya di tempat kerja sangat diperlukan, ia bilang, "Mereka lagi mau pindahan kantor, mendingan gua tidak masuk kerja saja, supaya mereka tahu rasa kekurangan orang." Wah, dengan mengeluh kepada si Unstuck, sebenarnya si Stuck ini sudah membuka pintu kegagalan.
Maksudnya apa? Well, siapa sebenarnya yang mau mempekerjakan seseorang yang tidak etis (tidak profesional)? Ingatlah bahwa "what you say says a lot about you" (apa yang Anda katakan kepada orang lain sebenarnya mencerminkan siapa Anda).
Kalau saja pihak yang mempekerjakan si Stuck ini sampai mendengar perkataannya, bukankah pintu promosi sudah langsung tertutup baginya? Belum lagi kalau si Unstuck temannya itu mempunyai potensi untuk mempekerjakan si Stuck. Bukankah ini adalah promosi buruk (bad personal branding) bagi si Stuck?
Ada lagi beberapa perbedaan antara si "Stuck" dan si "Unstuck".
Stuck: Senang meminta. Senang menerima yang gratis-gratis tanpa merasa obligated untuk membalas budi.
Unstuck: Senang memberi. Tidak senang menerima barang-barang gratis (ingat there is no free lunch, semuanya mesti dibayar baik sekarang maupun nanti --bukankah lebih baik sekarang?).Kalaupun diberi sesuatu, ia selalu membalas budi baik orang laindengan segera.
Stuck: Berpikir dengan perasaan dan merasa dengan pikiran. Sering mengalami konflik antara pikiran dan perbuatan,sehingga apa yang dikomunikasikan mempunyai "logical fallacy."
Unstuck: Berpikir dengan pikiran dan merasa dengan perasaan. Paralel dan tidak ada konflik antara pikiran dan perbuatan.Dalam istilah Ilmu Logika, perbuatan-perbuatannya adalah perbuatanyang sahih.
Stuck: Mengikuti tren (misalnya senang mendengarkan pendapat orang lain, menjadi "pengikut" pendapat orang lain).
Unstuck: Menciptakan tren (tidak memperdulikan omongan negatif orang lain, sepanjang apa yang diincar adalah halal dan bisa membantu orang banyak baik secara langsung maupun tidak langsung).
Stuck: Tidak berani menghadapi tantangan baru (lebih baik "stuck" di satu tempat daripada mengubah diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan baru yang akan membawanya ke kehidupan yang lebih baik).
Unstuck: Senang menghadapi tantangan baru, bahkan selalu mencari-carinya di setiap kesempatan.
Stuck: Senang memerangi masalah saat itu juga karena merasa egonya tertantang.
Unstuck: Memilih masalah yang harus diperangi (choose your battle) dan mana yang harus dilepaskan karena tidak worth it dari segi spending tenaga dan pikiran.
Stuck: Sering menyalahkan orang lain (blaming) dan mengeluh (whining). Bahkan ada orang selalu mengeluh sehingga ia tidak bisa lagi melihat berkat (blessing) di depan matanya.
Unstuck: Tidak menyalahkan siapa-siapa. What already happened, happened. Yang penting adalah solving the problem, bukan blaming dan whining.
Stuck: Tidak pernah double checking pendapat orang lain. Dalam kata lain, percaya saja kepada gosip secara penuh, tanpa mendengarkan dari pihak lain yang terlibat.
Unstuck: Selalu double checking dan tidak langsung mempercayai gosip atau isyu-isyu yang beredar.
Stuck: Lebih memusatkan kepada kemampuan berbahasa, bukan komunikasi efisien dan kemampuan adaptasi kultural.
Unstuck: Memusatkan kepada kemampuan berkomunikasi efisien dan adaptasi kultural, bukan yang dapat diukur oleh grammar dan mekanisa bahasa.
Stuck: Biasanya tidak berani mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya (ada unsur "merahasiakan" asal-usul dan beberapa hal lainnya yang semestinya bukanlah rahasia).
Unstuck: Terbuka dan transparan dalam bertindak.Berani untuk diaudit oleh siapapun karena kebenaran akan selaluberada di pihaknya.
Oke, sekarang kalau Anda merantau, kira-kira yang mana Anda?
Sumber: Yang Mana Anda: si Stuck atau si Unstuck?oleh Jennie S. Bev. Jennie S. Bev adalah penulis perantauan yangtelah menerbitkan 15 buku dalam bentuk elektronik di Amerika Serikat.Pada tahun 2003, ia dinobatkan sebagai EPPIE Award Finalist for excellence in electronic publishing.

Read More......

Friday, March 13, 2009

Pancasila dan Pembangunan Bangsa Indonesia

Pancasila dan Pembangunan Bangsa Indonesia
Oleh : Anton Sudarmedi 02-Jun-2008, 18:07:20 WIB - [www.kabarindonesia.com]


KabarIndonesia - Hasil survey Koran Kompas tentang Pancasila sangatlah mencengangkan betapa tidak , generasi muda bangsa ini sudah tidak tahu apa itu Pancasila, padahal para pendiri bangsa ini telah dengan susah payah mengkristalkan nilai nilai budaya dan moral bangsa Indonesia dan menuangkannya dalam PANCASILA. Bapak bangsa Indonesia (Soekarno, Hatta, dan lain lainnya) menyadari bahwa latar belakang geografis Indonesia, dan demografinya menyebabkan bangsa ini akan mengalami benturan benturan dalam perjalanannya di masa depan, perbedaan perbedaan mendasar seperti suku, bahasa bahkan perbedaan agama, akan dengan sangat mudah menjadi alasan benturan. Bapak bangsa kita berpikir jauh kedepan dan mendefinisikan nilai nilai yang dapat mempersatukan bangsa yang penduduknya sangat beragam ini, kebinekaan adalah identitas, tunggal ika adalah sifat, ya tidak perlu ditutupi bahwa memang bangsa kita terdiri dari beragam suku bangsa, tapi dengan satu persamaan tujuan.Apa yang salah setelah 63 tahun merdeka nilai nilai tersebut seolah olah hanya debu yang hilang tertipu angin. Penulis melihat bahwa peran pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan dan dinas terkait seperti dinas informasi dan komunikasi harus membuat langkah langkah yang serius. Mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasil yang sudah tidak terdengan lagi disekolah sekolah, harus mulai diaktifkan lagi, ditambah dengan kondisi kondisi aktual dalam negeri maupun luar negeri. Ketahanan moral akan harus mulai ditanam sejak dini.Arus globalisasi bukan tidak mungkin akan menghilangkan identitas bangsa ini, akibatnya adalah hilangnya nilai nilai yang telah dikristalisasikan oleh bapa bangsa ini.Secara historis , Pancasila sudah membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi masalah masalah yang terjadi, bukan tidak mungkin Pancasila juga akan bisa menghadapi neo liberalisme, neo kolonialisme , fundamentalis, dan terorisme. Dengan meresapi nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila, penulis yakin semua masalah diatas bisa diselesaikan, tidak akan ada lagi pemukulan oleh ormas yang mengatasnamakan agama tertentu, tidak akan ada lagi kericuhan dalam proses pilkada didaerah daerah, tidak akan ada lagi kerusuhan antar etnik. Sudah terbukti juga dalam sejarah bahwa apabila nilai nilai dalam Pancasila sudah ditanamkan dengan baik maka pembangunan akan berjalan dengan baik, pemerintahan yang meninggalkan salah satu nilai nilai dalam Pancasila akan jatuh.Melihat situasi sekarang ini penulis merasa bahwa sudah saatnya pemerintah kembali menggali nilai nilai Pancasila dan mengembangkan pola baru yang lebih interaktif dan dinamis dalam proses penanamannya baik itu dikembangkan dalam pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Sudah saatnya kita menggali kembali nilai nilai luhur yang telah dilestarikan oleh bapak bangsa kita.
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:www.kabarindonesia.com

Read More......

Yang Tersisa dari 100 Tahun Kebangkitan Nasional di BatamOleh

Yang Tersisa dari 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Batam
Oleh : Anton Sudarmedi 22-Mei-2008, 10:13:00 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Perayaan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional mungkin tidak menyentuh hati elit politik atau pejabat publik yang bekerja untuk rakyatnya. Perayaan 100 tahun kebangkitan nasional di Batam contohnya, dirayakan dalam keadaan gelap gulita. Bagaimana tidak, PLN membuat pemadaman bergilir selama waktu yang tidak bisa ditentukan. Masalahnya, katanya, akibat pasokan gas dari PGN (Perusahaan Gas Negara) yang tidak terus-menerus.Dari pertemuan yang difasilitasi oleh anggota DPRD Batam, terlihat jelas carut-marut hubungan PLN dan PGN. Rakyat yang selama ini hanya tahu PGN memasok gas ke PLN menjadi lebih tahu lagi bahwa PLN tidak membeli gas secara langsung melainkan melalui agen atau perusahaan pemasok.Yang jadi masalah adalah PGN juga memasok gas ke negara tetangga Singapura; lalu kenapa pasokan ke Singapura lancar-lancar saja? Pertanyaan yang naif tentu saja. Tapi, dari pertanyaan naif tersebut, hendaknya mengetuk pintu hati para pengendali perusahaan-perusahaan publik tersebut! Dimana rasa nasionalismenya?Dalam berbagai statemen di media massa, PT. PGN terkesan melemparkan tanggungjawab atas persoalan krisis gas di Batam kepada bentuk kontrak interruptable antara PT. PGN dan perusahaan-perusahaan konsumen gas lokal. PT. PGN sepertinya lupa memberikan penjelasan yang gamblang kepada publik bahwa kontrak mereka dengan ConocoPhillips untuk gas yang dialirkan ke Batam juga bersifat interruptable. Artinya, apabila permintaan gas di luar Indonesia -katakanlah Singapura- sedang tinggi, maka sah bagi ConocoPhillips untuk tidak meladeni permintaan PT. PGN. Walhasil, konsumen PT. PGN –seperti PT PLN Batam- tak kebagian gas seperti sediakala. Apakah keuntungan material lebih penting daripada melayani rakyatnya sendiri? Apakah lebih baik rakyat sendiri gelap gulita sedangkan bangsa lain menikmati hasil bumi kita?100 tahun kebangkitan nasional, apakah tidak bisa membuat kebijakan yang pro-rakyat, tanpa menghitung untung-rugi?100 tahun kebangkitan nasional belum bisa menciptakan kemandirian bagi rakyatnya, belum ada keberanian untuk bangkit mensejahterakan rakyat.Akhir kata kebangkitan harus dimulai dari keterbukaan hati untuk maju memperjuangkan harkat dan martabat bangsa ini. Dimulai dari hati yang bersih.
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

Read More......

tab 3 - Click >> Edit